Seorang desainer interior bernama Rina Renville mengamati bahwa kecenderungan untuk selalu berkiblat dengan tren Barat saat ini sudah mulai berkurang. Hal ini karena budaya Timur juga memiliki banyak potensi yang tidak kalah menarik. “Saat ini masyarakat sudah mulai mempertimbangkan untuk berkiblat ke Asia karena sebenarnya ada banyak sekali potensi yang dapat digali. Budayanya, filosofinya, konten lokalnya, dan masih banyak lagi,” tutur Rina.

Ini juga bisa dilihat dari masyarakat di Indonesia di mana kekayaan budaya merupakan salah satu kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, Indonesia pun tidak sepenuhnya selalu terpengaruh oleh budaya Barat. Tidak heran jika saat ini sudah banyak rumah hunian yang masih tetap mengombinasikan elemen budaya Indonesia baik dari segi desain bangunan, dekorasi, maupun furniture.

Rina memaparkan bahwa kebangkitan desain gaya timur juga ikut dipengaruhi oleh perkembangan konsep dari slow design dalam artian semua hasil desain disuguhkan melalui proses dan apa adanya, tidak instan. Rina memprediksi bahwa untuk ke depannya akan semakin banyak produk otentik yang diusung oleh konsep slow design ini.

Gerakan untuk mengembangkan bahan yang sustainable atau dapat diperbaharui misalnya rotan dan bambu bahkan dapat menjadi trend tersendiri. “Orang – orang lebih sadar terhadap filosofi desain yang sustainable. Saat ini mereka lebih cerdas untuk memilih dan mencari desain dengan banyak referensi yang mudah diperoleh,” tutur desainer yang juga merupakan pemrakarsa Anja Furniture itu.

Kebangkitan gaya timur juga turut dirasakan di Indonesia yang memiliki banyak koten lokal. Cosmas Gozali yang berprofesi sebagai seorang arsitek mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap lokalitas juga ikut diimbangi dengan usaha arsitek untuk semakin menggali warna, bentuk, dan ragam kebudayaan dari Indonesia.

Walaupun demikian, tidak berarti desain dan arsitektur di Indonesia harus menutup diri terhadap perkembangan desain luar negeri. “Sudah satu dua tahun terakhir ini saya mulai menggunakan gaya futuristis, tetapi tetap diimbangi filosofi lokal. Jadi bentuknya dapat modern dan futuristis, tetapi konten lokalnya masih tetap ada, tidak hanya sekedar menerapkan bentuk asing,” terangnya.

Dengan demikian bisa diartikan bahwa untuk ke depannya desainer interior dan arsitek dapat terus mengeksplorasi untuk mengikuti trend perkembangan desain global sambil masih tetap menggali konten lokal. Mengenai desain furniture dan produk, Cosmas menilai bahwa perkembangannya akan semakin mengarah pada bentuk – bentuk yang sederhana dengan berlandaskan aspek fungsi.

Arsitek tersebut juga mengungkapkan bahwa nantinya akan semakin banyak teknologi terbaru yang dapat mengolah material sekarang ini sehingga nilai gunanya semakin bertambah. Saat ini bahkan sudah banyak orang yang memadukan antara dengan desain barat dan desain timur sehingga memberikan tampilan yang menarik. Bagaimana, apakah Anda juga tertarik untuk menerapkan desain gaya timur pada rumah hunian Anda?

Gaya Timur