Properti dapat dikatakan sebagai salah satu investasi terbaik. Namun, properti juga dapat menjadi sumber segala masalah keuangan yang Anda miliki. Hal ini sering terjadi, bila Anda terbujuk dan tertipu rayuan dari iklan properti palsu yang banyak beredar.

Iklan-iklan berbahaya ini banyak Anda temukan di berbagai media. Mulai dari media konvensional seperti koran dan majalah, hingga media digital, seperti website, blog maupun media sosial. Banyak dari iklan properti tersebut yang menggunakan gaya bahasa yang sangat membujuk dan bersifat ambigu. Bila Anda mudah terbujuk dan menelan mentah-mentah, maka Anda hanya mendapatkan masalah.

Agar tidak menjadi korban bujuk rayu iklan properti yang tidak bertanggung jawab, ada beberapa hal yang perlu Anda cermati dari sebuah iklan properti.

Uang Muka

Hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah uang muka yang ditawarkan dalam iklan properti tersebut. Iklan yang cukup mencurigakan adalah iklan yang menawarkan uang muka yang cukup rendah. Misalnya, iklan properti dengan uang muka hanya 10 persen.

Tawaran uang muka yang rendah ini merupakan strategi dari pengembang untuk menarik konsumen. Biasanya, akan ada banyak persyaratan yang menyertai tawaran ini. Jadi, Anda harus teliti membaca persyaratan tersebut, dan jangan sampai tertipu iklan properti tersebut. Bila perlu, tanyakan juga pada bagian marketing pengembang properti tersebut.

Harga dan Cicilan

Harga dan cicilan juga sering ditulis tidak secara mendetail, misalnya, harga properti Rp. 400 jutaan atau cicilan Rp. 50 ribuan per hari saja. Dari sini, banyak yang mengira bila harga rumah hanya Rp 400 juta, tetapi ternyata, harganya mencapai Rp. 490 juta. Lalu, cicilan Rp. 50 ribuan per hari terlihat kecil, bila dihitung per bulan, Anda perlu membayar Rp. 1,5 juta.

Lokasi

Lokasi strategis menjadi daya jual dari properti tersebut. Dan, banyak iklan properti yang menonjolkan keunggulan lokasi dari properti tersebut. Namun, Anda juga perlu melakukan riset dan mengunjungi properti tersebut untuk melihat apa keunggulan tersebut seperti yang diungkapkan dalam iklan.

NUP (Nomor Urut Pembelian)

NUP juga sering digunakan para pengembang untuk menarik konsumen. Misalnya untuk 10 pembeli pertama, mereka mendapatkan harga atau uang muka yang lebih ringan untuk unit terbatas. Namun, Anda juga harus mencermati, bila harga dari properti akan dipengaruhi oleh NUP yang didapat. Artinya, bila Anda mendapatkan NUP urutan paling belakang, maka Anda harus membayar harga yang lebih mahal.

Pada dasarnya, untuk dapat memperoleh properti dengan kualitas paling baik, Anda harus dapat mengendalikan diri Anda. Jangan mudah tergiur dan selalu gunakan logika dan pikiran Anda untuk mencari tawaran dari iklan properti yang masuk akal dan sesuai kebutuhan Anda.

Iklan Properti